Selasa, 07 Desember 2010

Kisah dalam Al Qur’an adalah yang Utama

Karena cerita dalam sejarah itu memiliki banyak manfaat, maka Allah swt menceritakan dalam kitab-Nya banyak sekali kisah, khususnya kisah tentang para nabi. Allah berfirman, “Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Quran).” (QS. Thaha: 99)

Allah juga berfirman, “Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah.” (QS. Huud: 100)

Dan cerita kisah dalam Al Qur’an pastilah cerita yang paling baik, sebab Allah swt mengatakan, “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (QS. Yusuf: 3)

Ada tiga alasan, mengapa kisah dalam Al Qur’an disebut kisah yang paling baik. Pertama, bahwasanya kisah itu adalah benar dan jujur. Kisah itu bukan fiksi dan hanya ada dalam angan-angan. Allah menegaskan, “Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya.” (QS. Al Kahfi:13)

Sebab kedua, karena yang menceritakan kisah-kisah itu adalah Dzat Yang Maha Mengetahui, menguasai dan menciptakan sendiri semua peristiwa itu. Dia menegaskan, “Dan pasti akan Kami beritakan kepada mereka dengan ilmu (Kami) dan Kami tidak jauh (dari mereka).” (QS. Al A’raf:7)

Sebab ketiga, tidak ada yang disebutkan dalam kisah-kisah itu kecuali ada faidah dan ibrah yang besar di baliknya, dan yang tidak disebutkan tentu karena tidak terlalu memberi manfaat yang banyak. Sebab ini, ketika Allah swt menceritakan perselisihan ahli sejarah dan Ahlul Kitab tentang berapa jumlah pemuda yang remasuk dalam Ashabul Kahfi, Allah berfirman, “Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (QS. Al Kahfi:22)

Oleh karena itu, orang yang mencermati ini, dia akan mendapati bahwa ternyata Al Qur’an memiliki metode untuk membersihkan dan menyucikan jiwa yaitu dengan cara menampilkan kisah-kisah sejarah yang disukai dan menarik bagi jiwa itu sendiri. Dan Allah swt telah memerintahkan Nabi-Nya untuk juga menggunakan metode ini, seperti yang Dia firmankan, “Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al A’raf:176)

Ketika kita membaca Al Qur’an, maka secara otomatis kita juga sedang membaca sejarah. Tapi sejarah yang kita baca melalui rangkaian-rangkaian ayat itu, tentu perlu tadabur dan perenungan. Tidak sekadar baca. Agar tokoh dan peristiwa yang dikisahkan, dapat memberi pengajaran dan pelajaran dalam diri kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan dikomentari..