Senin, 16 Desember 2013

Umar dan Asal Mula Azan

Umat Islam hidup di Madinah dengan tenang. Mereka menjalankan shalat tanpa rasa takut. Mereka akan berkumpul untuk melaksanakan shalat jika waktunya tiba, tanpa ada panggilan shalat. Rasulullah ingin menggunakan terompet seperti orang Yahudi untuk memanggil kaum muslim. Namun, beliau tidak menyukai terompet. Lalu ada yang mengusulkan lonceng sebagai penanda waktu shalat sebagaimana orang Nasrani. Untuk membuat lonceng itu, Umar diberi tugas membeli kayu. Saat itu Umar sedang tidur di rumahnya. Setelah bangun dan tahu tentang rencana lonceng itu,ia berkata, “Jangan gunakan lonceng, tetapi untuk shalat serukan azan!”

Esoknya, Umar pergi menemui Rasulullah memberitahukan mimpinya. “Ya Rasulullah, semalam aku seperti bermimpi tentang laki-laki berpakaian hijau lewat di depanku membawa lonceng. Aku bertanya kepadanya ‘Hai hamba Allah, apakah lonceng itu akan kau jual? Orang itu balik bertanya, ‘Memangnya ingin kau gunakan untuk apa?’ ‘Sebagai panggilan sahlat,’ jawabku. ‘Maukah aku tunjukkan yang lebih baik daripada itu?’ tanyanya lagi. Kemudian, ia menyebutkan kepadaku lafal azan.

Rasulullah lalu menyuruh Bilal dan ia menyerukan azan dengan lafal tersebut. Umar di rumahnya mendengar suara azan itu, ia keluar menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, demi yang mengutus Anda dengan sebenarnya, aku bermimpi seperti itu.” 

Sejak saat itu, suara azan bergema di Madinah setiap hari lima kali, dan menjadi semacam penegasan bahwa kaum muslim kini telah unggul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan dikomentari..